Hugs My Palm Oil

Perkembangan industri kelapa sawit yang begitu pesat telah menarik perhatian dunia internasional. Banyak negara kemudian menyoroti dan mempersoalkan industri ini mulai dari aspek keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan petani kecil, tenaga kerja perempuan dalam perkebunan kelapa sawit, hingga hak asasi manusia.

Saat ini Indonesia dan Malaysia sebagai negara utama penghasil minyak kelapa sawit telah menjadi pusat sorotan dunia internasional.

Kecintaan saya terhadap dunia kelapa sawit memang terbilang baru. Pada tahun 2019 lalu saya berkesempatan untuk berdiskusi tentang kelapa sawit dengan teman-teman asal Malaysia dan Indonesia. Berangkat dari diskusi tersebut, saya sadar bahwa keinginan pribadi untuk berkontribusi terhadap negara Indonesia bisa diwujudkan melalui palm oil. Hal itu karena palm oil memiliki potensi yang luar biasa besar.

Bagi saya, membahas soal palm oil sama saja dengan berbicara tentang tiga ketahanan penting Republik Indonesia, yakni Ketahanan Pangan, Ketahanan Energi, dan Ketahanan Negara. Jadi, industri kelapa sawit bukan hanya soal sektor penghasil devisa ataupun propram biodiesel pemerintah.

Saya pun semakin serius mempelajari sektor kelapa sawit. Saya luangkan waktu untuk menemui dan menghubungi orang-orang yang ahli di bidang kelapa sawit mulai dari mantan mahasiswa Institut Pertanian Bogor hingga petani kelapa sawit. Selain itu, saya menemui lembaga produsen penghasil kelapa sawit Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), perusahaan kelapa sawit nasional Asian Agri, anggota DPR RI Firman Soebagyo, hingga pimpinan MPR RI Bambang Soesatyo dan Fadel Muhammad.

Berbagai pertemuan tersebut menyadarkan saya bahwa banyak hal yang belum saya pahami tentang kelapa sawit. Kenapa rakyat Indonesia harus mencintai kelapa sawit? Kenapa sektor kelapa sawit begitu penting bagi Indonesia? Apa saja kontribusi kelapa sawit bagi negara ini?

Pentingnya Edukasi

Sejak kecil saya sudah menyukai ilmu psikologi. Salah satu teori dari ilmu psikologi yang paling menarik perhatian saya ialah terbentuknya critical illness di usia 13 tahun. Artinya, kita harus masuk ke alam bawah sadar generasi muda Indonesia di masa golden age dan sebelum usia 13 tahun agar terbentuk rasa cinta yang besar terhadap kelapa sawit Indonesia.

Hal itu tidak bisa dilakukan hanya dengan memberikan kelas satu jam lalu tanya-jawab dan selesai. Kegiatan ini harus dilakukan secara berkelanjutan dengan cara yang santai, relaks, dan menyenangkan. Sudah tentu ada tools bagi kampanye ini agar kecintaan terhadap kelapa sawit membekas dalam benak mereka.

Adapun, pemberian ilmu kelapa sawit bagi yang berusia di atas 13 tahun bisa melalui focus group discussion (FGD) yang dilakukan secara paralel dan konsisten. Konsistensi merupakan unsur penting karena dibutuhkan usaha ekstra untuk meyakinkan anak-anak dengan usia di atas 13 tahun.

Sebagai bagian dari edukasi kelapa sawit, saya secara pribadi membuat logo Hugs My Palm Oil untuk dapat digunakan oleh seluruh pemangku kepentingan kelapa sawit di Indonesia baik oleh masyarakat, perusahaan swasta, hingga pemerintah pusat dan daerah.

Saya berharap logo Hugs My Palm Oil ini dapat dibuat dalam segala bentuk merchandise seperti gelas, agenda, balon, permen, t-shirt, sebagai alat untuk melakukan kampanye positif di semua perusahaan dan lembaga kelapa sawit Indonesia.

Berbagai bentuk merchandise tersebut bisa didistribusikan ke seluruh kementerian terkait (Kementerian Koordinator Perekonomian dan 10 kementerian yang dikoordinasikannya, Kementerian Koordinator Kemaritiman & Investasi dan enam kementerian yang dikoordinasikannya), BUMN, BUMD, perusahaan swasta di bidang kelapa sawit, perusahaan swasta pengguna kelapa sawit, NGO, organisasi sayap-sayap partai, sekolah-sekolah negeri dan swasta dari TK-SMA, universitaas, dan seluruh elemen sampai ke tingkat desa.

Lalu, pasti akan ada pertanyaan: bukankah sudah ada program Sawit Baik? Menurut saya, nama Sawit Baik itu justru berkonotasi negatif karena artinya ada sawit tidak baik (sawit jahat). Kedua, implementasi program itu kurang jelas dan tidak mengena ke masyarakat. Menurut saya, campaign terbaik adalah membuat pesan kita sampai dengan jelas, diterima dengan jelas, dan disampaikan dengan cara menyenangkan. Kenapa ada kata menyenangkan? Karena kalau pesannya sampai namun tidak menyenangkan maka bisa menjadi bumerang bagi pengirim pesan tersebut.

Saya berharap dengan melakukan kampanye positif Hugs My Palm Oil ini pesan tentang kelapa sawit akan lebih diterima dengan baik oleh khalayak. Bukan hanya karena bentuk logo yang eye catching pada merchandise, tapi karena kami memiliki media partner Warta Wisata yang siap berkolaborasi membuat program wisata sawit. Selain itu, saya sedang dalam proses pembuatan naskah cerita Sawiti dan Sawito dalam bentuk tokoh kartun yang ditulis oleh saya sendiri dibantu oleh tim Warta Wisata dan Warta Ekonomi.

Cerita ini akan ditayangkan di YouTube, di website seluruh kementerian terkait, di sekolah-sekolah, dan di televisi nasional. Tentu hal ini bukan perkara yang mudah jika saya melakukan sendiri. Hal ini akan menjadi luar biasa jika dilakukan secara bersama-sama. Pemilik anggaran mampu melihat ini sebagai peluang yang baik karena ada anak bangsa yang ingin berkontribusi besar pada kelapa sawit Indonesia. Tinggal bagaimana pemilik kebijakan dan pemilik anggaran, apakah mereka memiliki keyakinan, ketegasan, dan komitmen kuat untuk mengampanyekan palm oil kita.

Sekali lagi, saya ingin terlibat dalam perjuangan negara melakukan kampanye positif kelapa sawit dengan nama Hugs My Palm Oil untuk mengedukasi anak-anak golden age. Saya memiliki komitmen kuat untuk terus berupaya agar mimpi membesarkan Hugs My Palm Oil ini terwujud sampai level dunia guna meningkatkan Ketahanan Negara, Ketahanan Pangan, dan Ketahanan Energi Indonesia. (tyastar)

Leave A Reply