Riau, Sawit dan Wisata Budaya

Riau adalah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian tengah pulau Sumatra. Provinsi ini terletak di bagian tengah pantai timur Pulau Sumatra, yaitu di sepanjang pesisir Selat Melaka. Dan beberapa upacara adat Riau sarat dengan nilai – nilai agama Islam yang dianut oleh mayoritas warganya. Ibu kota dan kota terbesar Riau adalah Pekanbaru.

Riau sebagai daerah kawasan gambut, kini memiliki kebun kelapa sawit yang luas, hingga tahun 2018 luas kebun kelapa sawit di Riau mencapai 2 juta hektar lebih.Berdasarkan data dari Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Riau, luas kebun kelapa sawit di Riau tahun 2018 tercatat seluas 2.424.545.Luas kebun kelapa sawit yang ada ini, lebih dari seperempat luas Provinsi Riau secara keseluruhan yang hanya 8,7 juta hektar lebih.

Kebun kelapa sawit seluas ini terdiri dari kebun kelapa sawit milik masyarakat dan milik perusahaan.Namun, luas kebun kelapa sawit milik masyarakat jumlahnya sangat kecil bila dibandingkan dengan kebun milik perusahaan.

Ada ratusan perusahaan pemilik kebun kelapa sawit di Riau, baik level nasional maupun perusahaan level internasional.

Kebun kelapa sawit terluas berdasarkan data tersebut berada di Kabupaten Rokan Hulu dengan luas 422.861 hektar. Disusul di Kampar seluas 416.393 hektar, di Pelalawan seluas 306. 977 hektar, di Rokan Hilir seluas 281.474 hektar, di Siak seluas 288.362 hektar, di Inhil seluas 228.052 hektar, dan di Bengkalis seluas 183.687 hektar.

Selanjutnya, di Indragiri Hulu seluas 118.969 hektar, di Kuantan Singingi seluas 129.320 hektar, di Kota Dumai seluas 37.521 hektar dan di Pekanbaru hanya seluas 10.929 hektar.

Sedangkan yang tidak ada kebun Kelapa sawit di Kabupaten Kepulauan Meranti, karena di sana yang ada kebun sagu.

Data Luas Kebun Kelapa Sawit di Riau:

Total luas kebun kelapa sawit di Riau : 2.424.545 hektar

1.Kuantan Singingi 129.320

2.Indragiri Hulu 118.969

3.Indragiri Hilir 228.052

4.Pelalawan 306.977

5.Siak 288.362

6.Kampar 416.393

7.Rokan Hulu 422.861

8.Bengkalis 183.687

9.Rokan Hilir 281.474

10.Dumai 37.521

11.Pekanbaru 10.929

12.Kepulauan Meranti nihil alias tidak ada atau 0 hektar

Sehingga diharapkan potensi besar perkebunan kelapa sawit di Riau adalah pekerjaan rumah semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia kampus serta kelompok masyarakat sawit  untuk menyegerakan upaya optimalisasi nilai ekonominya bagi pendapatan negara dan kesejahteraan rakyat terutama petani sawit.

Wisata di Riau

  1. Sungai Gulamo di Desa Tanjung Alai, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Pesona Sungai Gulamo seperti ‘Green Canyon. Alamnya sangat memukau, dilingkupi dengan pohon-pohon besar dan rindang, air sungai yang bewarna hijau terang, dan dikelilingi tebing-tebing batu kiri kanan yang tinggi. Terdapat dua buah air terjun yang indah di sepanjang aliran Sungai Gulamo membuat setiap orang yang mengunjunginya berdecak kagum.Pemilik sampan, Safri (50 tahun), menyebutkan transportasi wisata itu disewakannya seharga Rp 500 ribu (pulang-pergi) selama satu hari lengkap dengan baju pelampung. Dirinya sekaligus menjadi juru mudi.

Penyewa sampan di kawasan wisata saat itu tercatat 10 orang. Dia menawarkan jasa untuk mengantarkan wisatawan sekali muat sebanyak maksimal delapan orang.

Jarak tempuh lokasi wisata alam tersebut dari Kota Pekanbaru ke lokasi Sungai Gulamo mencapai dua-2,5 jam perjalanan dengan menempuh rute pertama ke Danau PLTA Koto Panjang. Setiba di PLTA Koto Panjang, pengunjung menyambung perjalanan dengan menyewa sampan rakyat sekaligus dengan juru mudinya .

Sungai Kampar

Destinasi wisata ini ada di Desa Teluk Meranti, Kepulauan Riau. Di sungai itu terdapat bono, yaitu gelombang pasang surut dengan ombak suara yang menderu keras.

Bono ini mempunyai kecepatan 40 kilomater per jam. Ombak Bono ini menjadi daya tarik wisata Sungai Kampar karena wisata ini sangat cocok bagi kamu yang hobi berselancar.

Beberapa Upacara Adat Riau sebagai bagian yang ciri khas Riau diantaranya :

Tepung Tawar

Tradisi Tepuk Tepung Tawar atau Tepung Tawar merupakan simbol untuk mendoakan seseorang karena keberhasilannya. Prinsip inilah yang berlaku bagi masyarakat Riau. Bisa dibilang, upacara ini menjadi salah satu bagian penting dalam sejumlah prosesi adat istiadat. Seperti hajatan acara adat perkawinan, khataman Al Qur’an, berandam, syukuran, peresmian maupun prosesi kegiatan tradisi lainya.

Tidak bisa ditinggalkan, sampai saat ini masyarakat Melayu di provinsi Riau dan Kepulauan Riau ini masih melaksanakan Tepung Tawar. Ada yang menilai, upacara ini menjadi simbol yang hakekatnya tetap pada kekuatan memohon doa kepada Allah SWT, agar dihindarkan dari segala marabahaya.

Pada ungkapan orang Melayu, yang disebut Tepuk Tepung Tawar, menawar segala yang berbisa, menolak segala yang menganiaya, menjauhkan segala yang menggila, mendindingkan segala yang menggoda, menepis segala yang berbahaya. Selanjutnya juga disebutkan di dalam Tepuk Tepung Tawar, terkandung segala restu, terhimpun segala doa, terpatri segala harap, tertuang segala kasih sayang.

Upacara Menyemah Laut

Laut merupakan sumber daya alam yang harus dilestarikan keberadaannya. Setiap suku mempunyai cara berbeda dalam melestarikannya. Hal inilah uang dilakukan oleh warga Riau dalam menjaga laut mereka.

Kegiatan yang mereka lakukan disebut dengan Upacara Menyemah Laut, yaitu sebuah tradisi untuk melestarikan laut dan isinya, guna mendatangkan manfaat bagi manusia. Salah satu manfaatnya ialah hasil laut berupa ikan yang bisa untuk dimakan dan dijual dipasar.

Umumnya, upacara ini dilakukan oleh masyarakat yang tinggal disekitar laut dan mereka yang menjalankan usaha atau mencari penghidupan dari laut.

Tradisi Balimau Kasai

Balimau Kasai merupakan sebuah upacara tradisional yang istimewa bagi masyarakat Kampar di Provinsi Riau. Kegiatan ini dilakukan masyarakat setempat untuk menyambut bulan suci Ramadan. Acara ini umumnya dilaksanakan sehari menjelang masuknya bulan puasa. Tujuannya, selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa, juga merupakan simbol penyucian dan pembersihan diri.

Balimau mempunyai arti yaitu mandi dengan memakai air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut Limau. Jeruk yang biasa dipakai ialah jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas.

Tradisi Merisik

Kegiatan Merisik yang ada di Riau merupakan langkah pertama yang dilakukan dalam proses perkawinan. Hal ini bertujuan untuk menyelidiki tentang keberadaan seorang calon pengantin yang dilakukan oleh pihak laki-laki.Jika seorang laki-laki merasa tertarik akan seorang perempuan,  maka ia akan menyampaikan kepada kedua orang tuanya dan segala urusannya diserahkan pada mereka.

Untuk teknisnya, Merisik bisa dilakukan oleh orang tua laki-laki tersebut atau dengan mengirim orang yang dipercaya sebagai utusan untuk mencari informasi tentang calon istri berkaitan dengan latar belakang, kemampuannya mengurus rumah tangga, kesuciannya, kepribadiannya, serta pergaulannya dengan orang tua, tetangga, dan masyarakat. Terlepas dari informasi yang hendak didapat, poin penting ialah untuk ditanyakan adalah apakah si perempuan sudah dipinang orang atau sudah terikat janji dengan orang lain. Jika sudah, maka kedatangan pihak laki-laki dianggap hanya untuk bersilaturrahmi.

Tradisi Meminang

Meminang lanjutan dari Merisik. Usai mendapat informasi bahwa si perempuan belum mempunyai ikatan dengan laki-laki lain dan telah disepakati bahwa pihak laki-laki berkenan untuk menjodohkan anak laki-lakinya dengan si perempuan, maka dilakukan ke tahapan selanjutnya yaitu, Meminang. Lalu pihak laki-laki akan memberitahukan tentang kedatangan utusannya untuk melakukan peminangan dan pihak perempuan menunggu sambil melakukan beberapa persiapan seperti tepak sirih sebagai pertanda hati ikhlas menanti dan mengharapkan perundingan berjalan lancar.

Jumlah utusan terdiri dari beberapa orang yang dituakan dan seseorang juru bicara untuk menyampaikan maskud dan tujuan kedatangannya. Pernyataan Jubir dijawab oleh pihak perempuan. Ada kalanya jawaban bisa diberikan langsung saat peminangan, namun bisa pula pihak perempuan meminta tidak langsung memberikan jawaban dengan memintanya diwaktu lain. Tentu saja sang  laki-laki merasa ada perasaan cemas, apakah niatnya disetujui atau ditolak.

Tradisi Mengantar Tanda

Usai Merisik dan Meminang, jika prosesnya lancar, maka tahapan selanjutnya akan dilalui. Tahapan ini bernama Mengantar Tanda yaitu merupakan suatu ikatan janji diantara kedua calon pengantin. Sejatinya, tanda merupakan sinyal kuat bahwa wujud dari persetujuan penerimaan pinangan dan sebagai pengikat bagi kedua belah pihak. Lantas kedua belah pihak bermusyawarah untuk menentukan waktu. Pada acara antar tanda ini, Cuma pihak laki-laki yang membawa sebuah cincin emas belah rotan dengan ukuran sesuai dengan tingkat sosialnya. Usai prosesi antar tanda selesai dapat disimpulkan tentang berapa besarnya uang antaran dan hari langsung maka prosesi berikutnya adalah mengantar belanja.

Tradisi Mengantar Belanja

Selanjutnya, tradisi yang masih berlaku pada masyarakat Riau bernama Tradisi Mengantar Belanja. Kegiatan antar belanja pada hakikatnya merupakan kedatangan utusan pihak keluarga calon pengantin laki-laki untuk menyerahkan uang belanja sebagai lambang gotong-royong dan kebersamaan untuk membantu pihak perempuan dalam melaksanakan perhelatan perkawinan kedua anak mereka yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan calon pengantin laki-laki. Ada pihak perempuan yang menetapkan berapa dan ada juga calon mempelai wanta yang diserahkan kepada kemampuan sang pria.

Kompilasi by Nukila Evanty, for education purposes

Sumber :

http://www.bumn.go.id/ptpn5/berita/1-JANGAN-KAGET—Segini-Luas-Kebun-Kelapa-Sawit-di-Riau——-

https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/18/11/22/pik24v366-pesona-sungai-gulamo-green-canyon-di-riau

https://www.tagar.id/sungai-kampar-dan-empat-pesona-wisata-populer-riau

Leave A Reply