Kelapa Sawit untuk Sustainable Agriculture dan Perlindungan Lingkungan

  • Home
  • Artikel
  • Kelapa Sawit untuk Sustainable Agriculture dan Perlindungan Lingkungan

Tanaman kelapa sawit dalam bahasa ilmiahnya disebut Elaeis guinensis Jacq, adalah tanaman sejenis palma, yang terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah.

Pohon Sawit

Mengapa Sawit?

  • Salah satu pohon palem produktif utama yang dikembangkan di Indonesia.
  • Tumbuhan penghasil minyak nabati terbesar di dunia
  • Minyak sawit diproduksi baik dari serabut buah maupun inti
  • Minyak sawit dapat digunakan untuk minyak  sawit,minyak industri maupun bahan bakar (biodiesel)
  • Sifatnya yang tahan oksidasi dengan tekanan tinggi dan kemampuannya melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainny, serta daya melapis yang tinggi membuatnya  dapat digunakan untuk beragam peruntukkan.
  • Kelapa sawit merupakan satu tumbuhan industri yang sangat penting dikarenakan oleh kemampuannya yang tinggi untuk menghasilkan minyak nabati yang banyak dibutuhkan berbagai sektor industri.

Tandan Kosong Kelapa Sawit

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang merupakan limbah sawit. Tandan kosong atau biasa disebut Tankos sawit ini bisa dimanfaatkan untuk aneka kebutuhan, mulai dari bahan baku kertas hingga energi, yakni menjadi arang briket untuk menggantikan bahan bakar gas rumah tangga.

Arang briket sangat cocok digunakan sebagai pengganti gas (elpiji) atau briket batu bara untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, arang briket juga sangat layak ekspor. Selama ini, Tankos sawit lebih banyak digunakan sebagai pupuk kompos.

Keunggulan dari briket arang ini adalah panas dari nyala briket relatif tinggi, nyala briket lebih bersih (tidak berjelaga), lebih hemat, bebas bahan kimia dan tidak bau. Dengan pemanfaatan ini, petani sawit diharapkan bisa menjadikan Tankos sebagai produk yang bernilai ekonomis.

Daerah penyebaran kelapa sawit di Indonesia

  • Daerah Pantai Timur Sumatera
  • Aceh
  • Kalimantan
  • Sulawesi
  • Papua Barat

 

 

Industri berbasis Perkebunan Kelapa Sawit

 

Pentingnya industri berbasis perkebunan tidak terlepas dari perannya ditinjau dari :

  1. Hasil produksinya, untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor, dengan catatan komoditi perkebunan kelapa sawit yang menjadi penghasil bahan baku industri pengolahan perkebunan kelapa sawit juga menghasilkan komoditi primer untuk memenuhi kebutuhan ekspor.
  2. pengusahaannya yang melibatkan perusahaan pengolahan perkebunan berskala besar serta perkebunan besar dan rakyat.

Hilirisasi kelapa sawit (minyak dan produk samping) penting artinya bagi industri sawit dalam mengefisiensikan produksinya melalui pemanfaatan minyak sawit dan biomassa limbah sawit lainnya menjadi produk-produk bernilai tambah tinggi dan membuka peluang berdirinya industri baru.

Dalam rangka hilirisasi kelapa sawit agar mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, maka diperlukan inovasi teknologi dan produk baru yang dapat menyerap produksi CPO yang dihasilkan di dalam negeri.
Dari bahan baku CPO telah dilakukan penelitian sebagai berikut :

  • Melalui teknologi perengkahan katalitik telah dihasilkan bensin nabati RON 110 dan sedang dikembangkan pilot plant bensin nabati kapasitas 10 liter/hari. Pengembangan teknologi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak bumi.
  • Melalui dekarboksilasi sabun logam berbasis minyak sawit telah dihasilhan diesel hijau sawit dengan angka setana 53,18. Saat ini sedang dikembangkan pabrik percobaan berkapatias 20 liter per hari. Pengembangan produksi dan pemanfaatan BBN tipe drop-in (biohidrokarbon) ini dapat mendukung program peningkatan biodiesel nasional karena dapat dicampurkan tanpa batasan kadar (bisa sampai 100 %).
  • Telah dikembangkan surfactant Metil Ester Sulfonant (MES) untuk meningkatkan produktivitas minyak di sumur tua akibat timbulnya deposit wax. Telah didirikan mini pabrik produksi surfaktan MES skala 1-3 ton per hari. Penggunaan surfaktan berbasis minyak sawit selain meningkatkan produksi minyak dalam negeri juga dapat juga meningkatkan kandungan lokal (local content) di industri perminyakan.
  • Telah dikembangkan foaming agent dari minyak sawit untuk aplikasi sebagai bahan pemadam. Penemuan ini diharapkan dapat membantu mengatasi kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) khususnya pada lahan gambut. Larutan foaming agent 3% yang dilarutkan dengan air gambut, mampu mereduksi waktu pemadaman hingga 60% dibandingkan dengan pemadaman yang hanya menggunakan air gambut saja. Telah dikembangkan produksi konsentrat foaming agent skala 100 liter per hari
  • Telah dikembangkan proses sintesis Emulsifier Mono-diasilgliserol (MDAG) sebagai bahan tambahan pangan yang akan dikembangkan pada skala pilot 50-100 kg per hari. Penelitian sangat bermanfaat bagi industri pangan dimana sampai dengan saat ini kebutuhan emulsifier MDAG masih mengandalkan produk impor.
  • Telah diberhasil dilakukan sistesis komponen aktif parfum (civeton) dan feromonas melalui reaksi olefin metatesis. Bahan aktif parfum ini mempunyai nilai ekonomis dan permintaan yang sangat tinggi pada pasar internasional.

Sedangkan dari produk samping industry refinery berupa PFAD telah dilakukan penelitian sebagai berikut :

  • Telah dikembangkan teknologi produksi suplemen calcium fat pakan ternak ruminansia untuk meningkatkan produktivitas dari susu sapi perah. Telah dilakukan perancangan system peralatan skala pilot kapasitas 50 kg per hari
  • Telah dikembangkan proses produksi magnesium stearate dan vitamin E pada skala semi pilot 1-5 kg per hari. Magnesium stearate dan Vitamin E yang dihasilkan ditujukan untuk aplikasi pada industry dan farmasi
  • Telah dikembangkan teknologi produksi stabilizer termal PVC yang mampu menahan daya geser mulai kadar 1,0 phr. Telah dirancangan (basic engineering design/BED) pabrik stabiliser PVC dari PFAD kapasitas 8.000 kg/batch

Sedang dikembangkan emulsifier MDAG sebagai aditif antistatis untuk diaplikasikan dalam material biokomposit plastik ramah lingkungan.   (sumber bpdpks by Arfie Thahar)

Limbah Sawit

Industri sawit juga menghasilkan limbah dalam bentuk biomassa dengan jumlah yang sangat melimpah dan beragam baik dari kebun maupun pabrik. Biomassa yang berasal dari kebun yaitu batang dan pelepah sawit, sementara dari pabrik diperoleh tandan kosong sawit, cangkang, serat buah dan limbah cair. Batang sawit dihasilkan dari kegiatan peremajaan kebun setelah mencapai umur ekonomis (25-30 tahun), sedangkan pelepah diperoleh dari kegiatan pemangkasan pelepah saat pemanenan buah dan saat peremajaan.

Berbagai upaya pemanfaatan biomasa sawit telah banyak dilakukan khususnya untuk pemanfaatan biomasa yang berasal dari pabrik, namun untuk biomasa dari kebun masih relatif terbatas. Batang dan pelepah hasil peremajaan sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan, bila ada hanya untuk memperkaya nutrisi tanah pada proses pemangkasan pelepah di tanaman menghasilkan dan sebagai sumber bahan organik tanah pada areal-areal yang diremajakan.

Upaya pemanfaatan limbah atau biomassa batang kayu ini perlu dilakukan untuk menghindari efek negatif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar kebun melalui penerapan program produksi bersih melalui proses reduce, reuse, recycle and recover untuk meningkatkan nilai ekonomi dari limbah industri sawit.

Beberapa inovasi pengembangan batang kayu hasil replanting yang telah dilakukan sebagai berikut :

  • Papan laminasi atau Sandwich Laminated Lumber (SLL) yang dapat dimanfaatkan untuk panel lantai, dinding, komponen furniture, pengemas dan lain-lain. Teknologi ini dikembangkan secara dengan sistem mobile plant yang dapat berpindah-pindah ke lokasi peremajaan dilaksanakan.
  • Produksi pati-gula dari batang pohon sawit menjadi berbagai bahan bermanfaat yang potensial (asam laktat, asam glutamat dan bioetanol). Sisa biomassa yang sebagian besar ligno-selulosa dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik (biopower = listrik biomassa). Penelitian ini juga akan menghasilkan Desain Basis Kerekayasaan (Basic Engineering Design: BED) pabrik Pengolahan Batang Pohon Kelapa Sawit Usia Tebang berkapasitas 2 x 100 batang per hari, yang dapat digunakan sebagai referensi bagi investor dan pelaku industri dalam merencanakan dan merealisasikan pembangunan pabrik tersebut.
  • Kayu lapis dan fancy flooring yang akan diimplementasikan dalam bentuk Proyek Pilot (Pilot Project) pada beberapa industri kayu lapis di Jawa, Sumatera dan Kalimantan, dalam rangka memenuhi permintaan terhadap bahan baku industri perkayuan.
  • Teknologi produksi gula merah yang dapat diterapkan dalam skala kecil, sehingga dapat dijadikan sebagai skema pembiayaan dalam program peremajaan sawit rakyat. Investasi dibutuhkan untuk memproduksi gula merah dari nira skala 1 ha sekitar Rp 25 juta. Kegiatan produksi ini dapat menghasilkan keuntungan mencapai Rp 18 -25juta/2 bulan

Pemanfaatan batang sawit yang diterapkan melalui penelitian ini juga harus memperhatikan aspek lingkungan, dimana tidak seluruh batang sawit yang digunakan dari total biomassa tanaman sawit untuk setiap hektarnya. Pemanfaatan batang sawit sebagai laminasi menyisakan sekitar 47,5% di areal perkebunan yang difungsikan sebagai sumber bahan organik tanah untuk menjaga kesuburan lahan. (bpdpks by Arfie Thahar)

Potensi Kelapa sawit sebagai bahan bakar bensin dan LPG (Liquified Petroleum Gas)

Bahan bakar berbasis kelapa sawit sebagai alternatif bahan bakar fosil (green gasoline). Telah dikembangkan noleh Pertamina dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).Indonesia yang pertama mengembangkan sawit untuk bensin melalui co-processing. Minyak sawit dicampurkan ke kilang dengan proses cracking, menggunakan katalis Merah Putih,dan menghasilkan bensin dan LPG di akhir proses (bpdpks april 2019).

Indonesia merupakan negara pertama yang mengembangkan co-processing dari sawit untuk menghasilkan bensin. Sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat, Italia, dan Uni Emirat Arab memang juga mengembangkan pemanfaatan sawit untuk bensin. Namun, pengembangan mereka dilakukan dengan cara membuat pabrik baru untuk mengubah sawit menjadi bensin, bukan co-processing, tapi standalone, dari sawit menghasilkan bensin. Untuk co-processing , Indonesia yang pertama, co-processing menggunakan kilang yang sudah ada serta tidak membangun yang baru. (bpdps).


Leave A Reply